Lepaskan
Aku ….
Pertentangan
sosial merupakan suatu konflik yang biasanya timbul akibat faktor-faktor
sosial, contohnya salah paham. Pertentangan sosial ini adalah salah satu akibat
dari adanya perbedaan-perbedaan dari norma yang menyimpang di kehidupan
masyarakat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya pertentangan sosial antara lain:
- Rasa iri antara
individu,negara, dan masyarakat
- Adanya rasa tidak puas
masyarakat terhadap kepemerintahan
- Banyak adu domba antara
politik,agama,suku serta budaya.
Baru-baru ini muncul kembali gerakan separatis oleh OPM yang
mengancam Keutuhan NKRI, organisasi Papua Merdeka (OPM) ini muncul menentang
pemerintahan yang sah. Organisasi ini dididrikan pada tahun 1965 tepatnya di
kota Manokwari untuk mewujudkan kemerdekaan Papua bagian Barat dari NKRI. OPM
ini bermula sebelum masa revormasi, pada saat itu OPM merasa bahwa mereka
bukanlah bagian dari NKRI, maupun Negara-negara Asia lainnya. Organisasi Papua
Merdeka ini beranggapan bahwa penyatuan wilayah papua kedalam NKRI hanya
merupakan hasil perjanjian yang dilakukan antara bangsa Indonesia dengan bangsa
Belanda, dimana bangsa belanda menyerahkan wilayan jajahannya kepada bangsa
Indonesia.
Kelompok bersenjata asal Papua dikabarkan menyandera
sekitar 1.300 orang di Desa Kimbely dan Banti, Mimika. Menurut keterangan
polisi, 1.300 orang itu masih diperbolehkan beraktivitas, tapi diancam agar
tidak mencoba meninggalkan kampung mereka.
Kelompok bersenjata yang diduga OPM memutus akses dua kampung distrik, di
Tembagapura, Mimika, Papua. Selain memutus, diduga kelompok bersenjata juga
melakukan aksi teror terhadap warga. Dua kampung yang terisolasi di Mimika
adalah Banti dan Kembeli. Beberapa warga
bahkan dikabarkan mengalami ancaman atau bahkan serangan fisik. Kepolisian
meyakini kelompok bersenjata itu juga terlibat dalam penembakan anggota Brimob
di Tembagapura, Papua, beberapa pekan lalu.
Tetapi menurut Juru
Bicara Operasi Papua Merdeka (OPM) Sebby Sambon membantah pihaknya melakukan
aksi tersebut. Menurut Sebby, kabar tersebut hanya propaganda yang bertujuan
merusak perjuangan OPM. "Cara para pimpinan militer dan polisi Indonesia
adalah mencari legitimasi dengan tujuan untuk salahkan kami, tetapi kami tidak
sebodoh itu. Kami tahu benar tindakan militer yang paranoia, dan selalu
melakukan propaganda murahan untuk provokasi public’k,” lanjut Sebby Sambon.
“Kami sudah sampaikan sebelumnya
bahwa musuh kami bukan dengan masyarakat sipil. Tetapi musuh kami adalah
militer dan polisi Indonesia. Semua fitnah oleh Aparat Indonesia itu tidak
benar," ujarnya.
Namun,Tentara Pembebasan Nasional
Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) mengaku bertanggung jawab atas
serangkaian aksi teror penembakan yang terjadi dalam beberapa pekan ini di
areal tambang PT Freeport di Distrik Tembagapura, Kabupaten Timika, Papua. Aksi
tersebut dilakukan sebagai bagian dari memperjuangkan kemerdekaan Papua.
“Penyerangan
di Tembagapura murni dilakukan TPN-OPM di bawah perintah Goliat Tabuni, dan
merupakan operasi gabungan Komando Daerah Operasi (Kodap) Kali Kopi,
Tembagapura dan Intan Jaya di bawah pimpinan Brigjen Ayub Waker dan Tene
Murib," kata Juru Bicara TPN-OPM, Sebby Sambon, melalui telepon selulernya
dari hutan wilayah perbatasan RI-PNG, Sabtu 28 Oktober 2017.
“Tuntutan kami, pejuang Papua Merdeka, Indonesia kembali ke
meja perundingan bersama Belanda, Amerika dan PBB, difasilitasi pihak netral
untuk meluruskan sejarah. Karena sebenarnya Papua sudah merdeka, tapi dicaplok
Indonesia untuk kepentingan kekayaan alam bersama Amerika,’’ tegasnya.
Ia juga meminta Tentara maupun Polisi Indonesia untuk tak
memburu masyarakat sipil saat berhadapan dengan TPN-OPM. “Jangan kejar
masyarakat tak berdosa, mari kejar kami OPM, dan kami siap menghadapi,’’
tukasnya.
OPM mengklaim, dalam serangkaian
aksi selama beberapa pekan ini, pihaknya berhasil menembak mati satu anggota
Brimob serta melukai enam lainnya. Sementara personel OPM hanya terluka satu
orang di bagian jari. Anggota Brimob itu bernama Briptu Berry Pramana Putra.
Kepolisian mengambil opsi persuasif kepada kelompok
yang menyebut diri Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka
(TPM-OPM).Kelompok itu sudah lebih dari tiga
hari terakhir mengisolasi lalu lintas dari dan menuju dua kampung di Kabupaten
Timika, Banti dan Kimbely.
Pejabat
humas Polda Papua, Ajun Komisaris Besar Suryadi Diaz mengklaim sekitar 100
anggota kelompok itu kini berbaur dengan penduduk di dua kampung. Ia menilai
hal itu akan menyulitkan kepolisian jika mengambil tindakan
represif."Kalau bisa mereka (TPN-OPM) minimal meninggalkan kampung. Demi
keamanan bersama, kami imbau, jelang Natal dan tahun baru, tinggalkan kampung
atau menyerahkan diri. Itu permintaan kami," kata Suryadi saat dihubungi
dari Jakarta, Minggu (12/11).
Komisioner
Komnas HAM, Manager Nasution menilai pemerintah dalam hal ini, TNI-Polri harus
menjamin dan mendahulukan keselamatan dan keamanan masyarakat sipil dari
Penyanderaan tersebut. Penyanderaan dilakukan oleh kelompok teror bersenjata di
Kampung Kimbely dan Kampung Banti, Tembagapura, Mimika, Papua.
"Publik
berharap TNI-Polri dapat menyelesaikan kasus teror penyanderaan warga sipil itu
dengan damai dan bermartabat," ungkap Manager, Sabtu (11/11).
Direktur
Pusat Studi dan Pendidikan HAM Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka
(Uhamka) ini, menilai publik mendukung TNI-Polri dalam menangani kasus
penyanderaan mengedepabkan pendekatan persuasif, antara lain melalui
negosiasi.
"Pendekatan
persuasif melalui negosiasi penting untuk dilakukan, antara lain untuk
menghindari korban, terutama dari masyarakat sipil sebagai pihak korban
penyanderaan," katanya menambahkan.Kalaupun pada akhirnya terpaksa
menggunakan kekuatan senjata, menurutnya, itu harus betul-betul sebagai pilihan
terakhir. "Setelah semua ikhtiar persuasi mengalami kebuntuan,"
terangnya.
"Waktu
yang tersedia untuk Indonesia sudah hampir senja. Sebaiknya segera mengambil
tanggung jawab sebelum terlambat," kata dia.
Akankah Indonesia mampu
mempertahankan Papua?
Atau Akankah Indonesia sanggup
melepas Papua?
Lantas, Akankah Indonesia berakhir
Bahagia?...

Komentar
Posting Komentar